Pasti Ke Singkawang Hebat | Crown Taxi Kalimantan Barat

Pasti Ke Singkawang Hebat | Crown Taxi Kalimantan Barat Ya Kota Singkawang memang sudah tidak asing ditelinga sebagian orang karena terkenal sebagai kota toleran yang sangat bisa dijadikan contoh bagi kita semua betapa damainya Singkawang menjadi kota terbaik soal toleransi umat beragamanya. Singkawang juga dikenal sebagai kota seribu kelenteng dan terkadang juga disebut kota amoi karena memang banyak amoinya dikota Singkawang, berikut adalah asal usul kota singkawang agar kita sama-sama bisa belajar. Kota Singkawang atau San Keuw Jong (Hanzi: 山口洋; Hanyu Pinyin: Shānkǒu Yáng; Melayu Jawi: كوتا سيڠ كوانڠ) adalah sebuah kota (kotamadya) di Kalimantan Barat, Indonesia. Kota ini terletak sekitar 145 km sebelah utara dari Kota Pontianak, ibukota provinsi Kalimantan Barat, dan dikelilingi oleh pegunungan Pasi, Poteng, dan Sakok. Nama Singkawang berasal dari bahasa Hakka, Crown Taxi San khew jong yang mengacu pada sebuah kota di bukit dekat laut dan estuari. Beberapa puluh tahun yang lalu, Singkawang menjadi kota persinggahan para penambang emas asal China sebelum mereka melanjutkan perjalanan ke Monterado. Dua kawasan yang berada di Kalimantan Barat (Kalbar) itu memang berdekatan, hanya berjarak kurang dari satu jam perjalanan dengan kendaraan bermotor. Para penambang yang berbahasa China dengan logat Khek menyebut kota ini dengan nama San Keuw Jong, yang berarti kawasan dengan mata air mengalir dari gunung sampai laut. Kondisi geografis itu juga membuat kawasan yang berbatasan langsung dengan Laut Natuna ini diselimuti oleh lahan hijau yang subur walau beriklim tropis basah.


Awalnya Singkawang merupakan sebuah desa bagian dari wilayah kesultanan Sambas, Desa Singkawang sebagai tempat singgah para pedagang dan penambang emas dari Monterado. Para penambang dan pedagang yang Ncs Taxi kebanyakan berasal dari negeri China, sebelum mereka menuju Monterado terlebih dahulu beristirahat di Singkawang, sedangkan para penambang emas di Monterado yang sudah lama sering beristirahat di Singkawang untuk melepas kepenatannya dan Singkawang juga sebagai tempat transit pengangkutan hasil tambang emas (serbuk emas). Waktu itu, mereka (orang Tionghoa) menyebut Singkawang dengan kata San Keuw Jong (Bahasa Hakka), mereka berasumsi dari sisi geografis bahwa Singkawang yang berbatasan langsung dengan laut Natuna serta terdapat pengunungan dan sungai, Surya Taxi dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut. Melihat perkembangan Singkawang yang dinilai oleh mereka yang cukup menjanjikan, sehingga antara penambang tersebut beralih profesi ada yang menjadi petani dan pedagang di Singkawang yang pada akhirnya para penambang tersebut tinggal dan menetap di Singkawang.

Banyaknya penduduk keturunan Tionghoa yang memeluk Buddha dan Khonghucu membuat banyaknya bangunan vihara atau kelenteng yang dibangun di Singkawang. Kota ini bahkan mendapat julukan 'Kota Seribu Kelenteng' dan 'Hong Kong-nya Indonesia. Berbagai tradisi tahunan khas Tionghoa pun rutin diselenggarakan di sini, seperti Imlek, Cap Go Meh Dhafin Taxi dan Ceng Beng. Bahkan, salah satu pawai yang diselenggarakan setiap Cap Go Meh, Pawai Tatung, disebut sebagai yang terbesar di dunia. Pawai tersebut merupakan perpaduan dari budaya Tionghoa dan Dayak. Kota Singkawang semula merupakan bagian dan ibukota dari wilayah Kabupaten Sambas (UU Nomor 27 Tahun 1959) dengan status Kecamatan Singkawang dan pada tahun 1981 kota ini menjadi Kota Administratif Singkawang (PP Nomor 49 Tahun 1981). Tujuan pembentukan Kota Administratif Singkawang adalah untuk meningkatkan kegiatan penyelenggaraan pemerintahan secara berhasil guna dan berdaya guna dan merupakan sarana utama bagi pembinaan wilayah serta merupakan unsur pendorong yang kuat bagi usaha Palapa Taxi peningkatan laju pembangunan. Selain pusat pemerintahan Kota Administratif Singkawang ibukota Sambas juga berkedudukan di Kota Singkawang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.